Kehidupan desa yg nyaman dizaman dulu.Kini telah hilang


Kehidupan desa yg nyaman dizaman dulu.Kini telah hilang kenyamanannya.Desa yg dulu remang remang kini telah sama hiruk pikuknya dengan kota. sama sama dihiasai lampu listrik masuk desa.

Itu juga karena perkembangan zaman.Tuntutan untuk maju dan tuntutan untuk hidup lebih baik.

Dulu sebelum ada listrik masuk desa ,penerangan dirumahku saat aku masih kanak kanak masih berupa lampu teplok.Dilain tempat mungkin beda namanya.Tapi apapun namanya inilah lampu penerang dengan bahan minyak tanah sebagai bahan bakarnya dan tabung kaca sebagai penutupnya.


Remang remang namun tenangnya luar biasa.

Diantara era lampu teplok dan listrik sempat pula muncul lampu pompa namun rakus dengan bahan bakar.lampu yg biasany hanya dinyalakAn oleh orang orang kaya.lampu kenangan kesedihan buat hidup saya.tapi bukan karena saya orang kaya.tapi kebutuhan orang tua saya zaman itu untuk keperluan pekerjaan.
Pada masa,itu orang berpunyapun belum tentu menyalakan lampu pompa ini semalaman.dan sebagai gantinya jika jam tidur sudah tiba menyalakan lampu teplok jg.sambil dikecilkan sumbunya.bagi yang gemar tidur dikegelapan tidak perlu mematikan si teplok ini.ckp diselipkan kertas disela sela kaca sebagai penghalangnya.


Ada tiga tahapan dalam nyala lampu teplok ini.yaitu membesarkan,mengecilkan,dan memberi penghalang.


malam ,ketika listrik belum menyala begitu tampak sangat gelapnya.tetapi kegelapan yg pekat itu adalah kegelapan yg ramah dengan cahaya.karena gelapnya cahaya kunang kunang dikejauhanpun tampak begitu jelas.bahkan untuk melihat siapa nan jauh disanapun ckp dilihat dari kepatan rokokpun sdh ketahuan.oo..itu kang tukiman.karena gerakan rokoknya cpt padahal yg sering jln dengan gaya itu ya kang tukiman.namun jaman sekarang susah menerka itu.karena terhalang terangnya listrik yg terang.

Demikian juga dengan kita dlm hal nyala kemarahan.
kemarahan sebenarnya ibarat nyala api lampu teplok ini. ia bisa dibesarkan bisa dikecilkan .

kita sebagai manusia yg selalu berselubung nafsu pasti tak akan lepas dari pakaian yg nmnya kemarahan.

Suatu saat saya pernah marah dengan suami saya .hanya karena hal kecil dia lupa sms saat hendak tidur...yg nmnya suami istri mgkn inilah bagian rutinitas ajeg dlm kehidupan jarak jauh.saya marah marah yg tak tahu arah.akhirnya dia ikutan marah juga karena saya membesarkan nyala kemarahan saya dengan membesar besarkan masalah yg sebenarnya bisa saya kecilkan dengan kertas alasan " o mgkn dia kecapekan... atau terlalu sibuk.."

dari hal itulah akhirnya saya memahami bahwa kemarahan itu bisa kita besarkan atau kecilkan sesuai keadaan yg terjadi.atau bahkan kita padamkan kemarahan itu seperti halnya lampu teplok itu agar kita bisa tidur dan tidak memikirkan sebab dari nyala kemarahan itu dengan sabar... yaitu padamnya api lampu teplok.

hal kecil tapi kita bisa belajar.semoga lampu teplok ini tetap tersimpan dirumah kita. sebagai sedia payung sebelum hujan.agar kemarahan didalam jiwa kita tidak seperti lampu listrik yg terus menyala sama besarnya dan tidak pernah bisa dikecilkan.

hikmah hidup selalu disekitar kita.

Abhi Aufa

Manusia yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu mencari seorang sahabat. Namun yang lebih lemah dari itu adalah orang yang mendapatkan banyak sahabat tetapi menyia-nyiakannya.